Pacar Sudah Seperti Suami Isteri




Bagi orang-orang yang sedang berada di umur saya, alias di umur 20-an, memang dijadikan oleh sebagian besar orang sebagai masa pencarian pasangan hidup. Oleh karena itu, biasanya kalau sudah umur kepala dua, kalau pacaran ya inginnya itu yang terakhir.. enggak mau putus nyambung putus nyambung lagi. Nah, banyak cewek atau cowok yang pacaran yang bertingkah seperti suami istri, gara-gara berpikir, “doi kan ntar mau gw jadiin suami / isteri, jadi harus dibiasain dari sekarang dong..”. Hal seperti itu sering saya lihat sendiri atau mendengarkan curhatan teman sendiri, padahal teman-teman saya itu masih umur 20-21 tahun lho. Kalau menurut saya pribadi sih, agak lebay juga kalau pacaran tapi sudah seperti suami istri saja. Banyak lho, (bahkan yang dibawah umur 20 tahun), yang sudah cium tangan pasangannya kalau mau pulang sekolah/pulang kuliah. Wih, itu pacar atau suami istri? Banyak juga saya temukan orang-orang sekitar saya, jalan-jalan ke luar negeri sama pacarnya berdua saja. Bulan madu, cyin? Hehe. Ada juga yang sudah punya tabungan bersama, untuk modal menikah nanti. Padahal sama-sama masih umur 20 tahun. Antara so sweet dan ada sisi lebay nya juga.

Pacaran model seperti yang saya sebutkan itu, menurut saya adalah percintaan tingkat tinggi. Maksudnya, komitmen yang terjalin diantara kedua pihak luar biasa kuat. Dan untuk berkomitmen tingkat tinggi seperti itu di umur yang bisa dibilang baru saja beranjak dewasa, sama sekali tidak mudah. Buktinya, banyak teman-teman saya yang sering berantem sama pacarnya, dan menurut saya, akar permasalahannya itu adalah karena pacarannya terlalu lebay. Nih, beberapa hal yang biasanya jadi bahan pertengkaran.

1. Pacar=Supir?

Punya pacar, memang enaknya jadi ada yang nemenin kemana-mana. Ada film baru di bioskop, terus nonton bareng pacar. Ada pameran buku, pacar nemenin.. ah, intinya kalau ada pacar pasti ada partner yang akan selalu siap nemenin kita kemanapun kita mau. Tapi nih, ada case dimana (biasanya), cowok sering merasa hanya dimanfaatkan sebagai supir si cewek. Kayak yang teman saya alami, sebut saja dia Bambang. Awal-awal dia pacaran sama ceweknya, si Bambang dengan senang hati selalu nemenin ceweknya kalau ceweknya kemana-mana. Ke mall, makan malam, makan siang, nonton bioskop, belanja bulanan, ke salon, ya kemana saja deh pokoknya. Lama-lama, si Bambang merasa kayak ditindas sama ceweknya. Ceweknya seperti bergantung sekali sama Bambang, pokoknya kemana-mana harus diantar Bambang. Padahal, si Bambang juga sebenarnya ingin melakukan hal lain, enggak cuma nganter ceweknya melulu. Tapi ceweknya selalu marah kalau Bambang enggak bisa nganter atau jemput ceweknya. Duh, rempong deh cyin.. Bambang saking sayangnya sama ceweknya, enggak mau berantem, katanya takut putus. Soalnya orang tuanya si cewek sudah setuju kalau anaknya pacaran sama Bambang karena menganggap Bambang bertanggung jawab mau terus menjaga anaknya. Padahal, enggak tau aja Bambang sampai harus melepas hobi main bandnya gara-gara sibuk jadi “supir”. Nah lho. Gimana tuh.

2. Over Protective

Saking udah yakinnya kalau si dia bakalan “the last” terkadang bahkan seringkali memunculkan sifat over protective pada seseorang. Teman saya, ada yang sudah berpacaran dengan pasangannya selama 7 tahun. Lama banget ya. Dan atas dasar itulah, teman saya sebut saja Alex, merasa (sebut saja Mawar) itu adalah pasangan hidup yang tepat nantinya. Memang sih, kelihatannya sweet banget ya pacarannya bisa bertahan lama. Jarang cowok yang bisa bertahan lama dengan seorang perempuan, di umur yang bisa dikatakan kadang-kadang masih suka labil. Tapi nih, si Alex jadi overprotective-to-the-max sama Mawar, gara-gara takut kehilangan Mawar. Pertemanan Mawar dengan lawan jenis sangat-sangat di pantau oleh Alex. Bahkan, Alex nge-add Facebook teman-teman Mawar yang lawan jenis. Katanya, demi menghindari perselingkuhan. Saya kebetulan kenal dengan Mawar, gara-gara dulu Mawar sempat mengajak saya kongkalikong untuk membuat surprise ulang tahun untuk Alex. Mawar pernah curhat dengan saya, kalau dia cukup tertekan dengan sifat Alex yang super protective, sehingga Mawar jarang sekali ngobrol dengan teman laki-lakinya di kampus, kecuali kalau ada tugas saja. Dan itu membuat Mawar sedih. Mau dinasihatin pun, si Alex tetap tidak bisa merubah sifatnya yang protective itu. Mau putus pun, belum berani karena sudah lamanya mereka berpacaran. Akhirnya Mawar cuman bisa galau-galau terus tanpa berani mengambil langkah apapun.

3. Banyak Ngatur

Berasa sudah jadi suami istri, banyak orang yang ketika pacaran sudah memberikan banyak aturan kepada pasangannya. Teman saya (cewek) kebetulan menyukai hobi-hobi yang berkaitan dengan alam, seperti mendaki gunung. Pacarnya, selalu tidak pernah setuju kalau ceweknya punya hobi kayak gitu, dan enggak pernah mengizinkan dia untuk naik gunung bersama dengan teman-teman organisasi pencinta alam di sekolahnya. Gila banget. Padahal orang tuanya saja mengizinkan. Teman saya itu, karena dia sayang banget sama pacarnya, dia nurut sama pacarnya. Padahal dia sedih banget enggak bisa naik gunung karena itu udah passion nya banget. Ya, kadang-kadang orang menjadi lemah kalau sudah dihadapkan dengan cinta ya. Hehe. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu, tapi untungnya belum jadi pacar. Dia melarang saya untuk nari Bali karena dia menganggap baju-baju tari Bali itu beberapa ada yang seksi. Melarang? Melarang saya melakukan sesuatu yang sangat saya suka? Terlalu.

Ada juga nih, cowok yang enggak ngebolehin pacarnya menyelam atau juga snorkeling. Ini serius terjadi pada teman saya (cewek) yang hobi ke pantai terus diving. Cowoknya enggak mau ceweknya jadi gosong karena kelamaan main di pantai. Tapi herannya, mereka sampai sekarang masih awet. Katanya sih, sayang kalau putus, cuman gara-gara enggak boleh menyelam. Pernah si cewek enggak bilang-bilang sama cowoknya kalau dia ke pantai Karimun Jawa, terus pulang-pulang gosong. Serius, mereka betengkar. Penting banget ya. Bukannya pasangan tuh harus saling memahami dan menghargai satu sama lain, termasuk hobi pasangannya ya? Heran deh kalau suka masih ada yang ngatur kayak gitu.

Nah, jadi sebenarnya kalau menurut saya sih, kekerasan pada pacaran tidak melulu kekerasan secara fisik ya, tapi juga pada psikis alias batin dan perasaan seseorang. Seperti yang saya ceritakan pada hal yang si cowok sampai melepas hobi main band nya gara-gara latihannya enggak teratur, akibat punya pacar yang mesti banget di antar jemput kemana-mana. Itu lebay. Pacar itu bukan supir Anda, tapi partner yang setia menemani Anda. Ada lagi yang over protective sampai pacarnya enggak bisa berteman dengan lawan jenis. Duh, rempong kalau itu sih. Harus percaya dong ah sama pacarnya. Untuk yang banyak ngatur, seharusnya menerima pacarnya itu apa adanya. Hobinya, aktifitasnya, fisiknya, juga kekurangannya. Baru pacaran lho, belum jadi suami istri.. masa sudah ngatur ini itu. Pacaran itu harus seneng. Jangan ada pihak yang merasa tertekan dan merasa enggak nyaman. Kalau begitu masa mau diteruskan? Hayo.. *bikin galau*

No comments