Kisah Cinta Nabi Yusuf A.S



Cinta (mahabbah) adalah hasrat yang begitu besar terhadap sesuatu yang menyenangkan. Kecenderungan ini kemudian menjadi teguh dan kuat laksana batu karang, sehingga berubah menjadi kerinduan (`isyq). Kerinduan ini pun terus meningkat hingga seorang pecinta menjadi budak bagi kekasihnya. Ia akan senang memberikan segala yang dimilikinya demi sang kekasih pujaan. Tidak ada yang membuatnya berat melakukan itu, sebab ia telah benar-benar jatuh cinta.

Perhatikanlah, betapa Zulaykha jatuh cinta kepada Yusuf AS dengan menghabiskan uang dan hartanya. Demi cintanya, bahkan ia pun sudi merendahkan harga dirinya hingga pada tahapan kehinaan saat ia memaksa Yusuf AS berbuat zina. Kepada siapa saja yang berkata; “Hari ini aku melihat Yusuf” ia lantas memberikan perhiasan yang membuat orang itu kaya, hingga tak tersisa baginya. Setiap sesuatu ia namai Yusuf. Dan karena kecintaannya yang begitu mendalam, ia telah melupakan segalanya kecuali Yusuf. Kemanapun pandangannya mengarah, ia melihat wajah Yusuf tergambar jelas dalam senyuman tampan. Sungguh cinta yang memabukkan.

Diriwayatkan, setelah beriman dan menikah dengan Yusuf AS, Zulaykha menyendiri untuk beribadah dan memutuskan hubungan dengan segala sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika pada suatu siang, Yusuf mengajaknya ke tempat tidur, ia meminta Yusuf menunggu hingga datang malam. Ketika pada suatu malam Yusuf memanggilnya, ia meminta Yusuf bersabar hingga tiba waktu siang. Ia berkata; “Yusuf, sebelum aku mengenalmu, aku hanya mencintaimu. Namun setelah aku mengenalmu, kecintaan kepada-Nya tidak menyisakan kecintaan kepada selain-Nya. Aku tidak ingin ada yang menggantikan-Nya. Lantas Yusuf AS pun menjawab; “Allah `Azza wa jalla memerintahkan hal itu kepadaku. Allah SWT mengabarkan kepadaku bahwa akan keluar dua anak darimu, dan Dia akan menjadikan mereka Nabi” Akhirnya, Zulaykha berkata; “Jika Allah memerintahkan hal itu kepadamu dan menjadikanku sebagai jalan menuju-Nya, niscaya ketaatan kepada-Nya merupakan urusan Allah SWT. Dengannya aku merasa tenteram”

Subhanallah, sekali lagi betapa keindahan cinta ditampakkan. Sehingga segala sesuatu itu bila tersentuh oleh cinta akan menjadi menawan. Karena cinta pun dapat diwujudkan menjadi tiga perangai, yaitu; memilih ucapan kekasihnya daripada ucapan orang lain; memilih duduk bersama kekasihnya daripada duduk dengan orang lain; dan memilih keridhaan kekasihnya daripada keridhaan orang lain (dari Al-Halajj RA di dalam Al-Muntaha).

Jadi disini, Zulaykha telah benar dalam memilih ucapan kekasihnya (Yusuf AS) dan mempercayakan segala urusan hanya kepada Allah SWT. Ia pun telah benar dalam urusan cintanya, karena setelah bertobat ia menjadikan cinta kepada-Nya tiada banding. Tidak ada yang mengalahkan kerinduan dan rasa cinta kepada Kekasih Agung itu. Sehingga di sepanjang sisa hidupnya, Zulaykha mendapat ridha kekasihnya (Yusuf AS) dan Tuhannya.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari sekelumit kisah ini, sebab selama kita bisa hidup dalam kebenaran, maka selama itu pula kita akan menjadi seorang penempuh jalan cinta.

No comments